Aside

Melestarikan Nilai Sejarah dan Budaya Kebaya

Gambar

Pada era modern, kehadiran kebaya tetap eksis hingga tulisan ini dibuat. Kebaya modern mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga cocok untuk diterapkan diberbagai kalangan. Paduannya juga tidak harus dengan kain jarik, namun bisa dipadukan dengan kain songket, sarung, celana, bahkan celana jeans untuk mode yang semi formal.

Kebaya juga diterapkan pada busana pengantin, khususnya pengantin Jawa. Untuk busana pengantin, kebaya mengalami modifikasi sehingga bisa juga digunakan para pengantin muslimah. Bahan yang digunakan juga bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan.

Beberapa nilai-nilai dari kebaya yang tetap lestari hingga saat ini adalah :

  1. Kebaya tetap identik dengan pakaian resmi atau formal, walaupun beberapa modifikasi menjadikan kebaya adalah pakaian semi formal.
  2. Kebaya menunjukkan desain pakaian khas Indonesia.
  3. Kebaya selalu “dekat” dengan keindahan dan keanggunan.
  4. Kebaya tetap disukai berbagai macam kalangan, khususnya kaum wanita.
  5. Hingga saat ini, kebaya tetap berkembang dan mengalami modifikasi sehingga keberadaannya semakin disukai kaum wanita.

Sejarah Desain Kebaya

Jangan salah lho,,!!! Ternyata desain kebaya juga punya sejarah tersendiri. Sama halnya dengan busana kebayanya sendiri, desain kebaya juga memiliki cerita panjang yang dapat ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi.

Wanita Eropa umumnya menggunakan model kebaya yang terbuat dari bahan katun halus denga aksen lace di pinggirnya. Sementara itu, wanita Tionghoa atau lazimnya kita sebut dengan wanita Cina lebih suka menggunakan desain kebaya dengn potongan yang lebih pendek dan sederhana dengan hiasan yang lebih berwarna yang sering kita sebut dengan kebaya encim.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perputaran zaman yang begitu cepat, desain kebaya selalu berubah dan sempat tergerus zaman. Khususnya pada masa pendudukan Jepang, yaitu pada saat kreativitas dan produktivitas bangsa ditekan dan dibatasi hingga level yang paling rendah. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, mereka memutuskan jalur perdagangan tekstil dan perlengkapan penunjangnya, akhirnya banyak pula rumah produksi kebaya yang tutup dan hanya sedikit perusahaan batik yang dapat bertahan di ketatnya persaingan pasar.

Sejak saat itu, kebaya kayaknya sudah mulai terhapus.  Wanita-wanita pejuang yang masih banyak menggunakan kebaya, harus  kembali mempopulerkannya, karena mereka harus bersaing dengan busana Barat yang lebih dianggap “membebaskan” perempuan dari simbolisasi kebaya masa lalu yang mengekang wanita dalam lilitan korset dan kain panjang (model kebaya modern).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s